Hello !! >

Hi, welcome to my world, enjoy this blog :D
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2015

Aku di Lapas Wanita


gambar diambil dari http://www.lapaswanitasemarang.com/

Aku di Lapas Wanita? Ya. Ramadhan tahun ini memang super sekali. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Ramadhan bahkan membawaku ke Lapas! Lembaga Pemasyarakatan Wanita alias penjara. Tempat yang paling tidak ingin aku kunjungi. Tempat yang menurutku paling seram-setelah kuburan dan kamar mayat. Tempat yang-maaf- berisi orang-orang jahat.

Dalam bayanganku, penjara akan terlihat suram dengan nuansa hitam seperti yang ditampilkan di TV. Pun orang-orang di dalamnya, pasti akan berwajah sangar nan seram. Belum lagi penjaganya, pasti badannya kekar dan tatapannya setajam belati. Sekali lagi, ini hanya berdasarkan imajinasiku.

Selasa, 08 Januari 2013

You Are My Special


“Far!” panggilku. Yang dipanggil tidak menyahut, entah hanya perasaanku atau memang benar adanya, dia seperti membuang muka dariku.
                “Fara! Tunggu..” aku setengah berlari mencoba mendekat, mensejajari langkahnya di koridor.
                “Aduh, aku lupa!” Fara menepuk jidat, kemudian seakan aku tidak lebih dari bayangan, dia berlari kesetanan, kembali ke kelas. Hei, Fara, bahkan setelah bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi pun kamu nggak mau bersamaku? Bah! Entahlah, aku yakin bukan cuma firasat. Terang sekali Fara mencoba menjauhiku. Bahkan aku yakin Fara tidak benar-benar meninggalkan sesuatu di kelas.
                Oke, baiklah. Jika 100 kilometer adalah batas kesabaran yang bisa ditempuh seseorang, maka aku sudah berlari sejauh itu dan kini aku berada di kilometer ke 101. Dan bila air sedanau digunakan untuk menakar sebanyak apa senyum yang mungkin kumiliki, maka kamu sudah menegak habis seluruhnya. Danau itu kering, sekering senyumku. Aku harus bisa menerima kenyataan ini.Hari ini mungkin menjadi ulang tahun terburukku sepanjang masa. Aku mendengus kesal, kemudian meninggalkan sekolah.
***
              

Kamis, 01 November 2012

Yang Tertunda


Bahkan sampai detik ini belum juga tersampaikan, permintaan maaf dari hatiku yang paling dalam. Hari itu, ketika aku yang sangat bodoh ini akhirnya menyadarinya.
***
Banyak yang membicarakan dia, kakak kelas yang sudah lama kukenal. Banyak yang membicarakan kepergiannya dari komunitas kami, entah. Aku mendengar mereka bercakap-cakap tentang api apa yang menimbulkan asap yang menyesakkan ini.

Minggu, 17 Juni 2012

Cerpen - Tiga Tiga


“Selesai!!” ungkapku lega. Aku berdiri dari kursi, mengangkat kertas putih yang telah penuh dengan warna di tanganku.
Lho, baru selesai Dit?” Fira menepuk pundakku. Aku menoleh.
Iya, terus ini gimana?” aku menyodorkan kertas tugasku, berbinar.
Lho, punya temen-temen udah dibawa Sinta semua, mau di scan.”
BREGH. Ruang kelas seketika berputar kencang, bermetamorfosis menjadi wahana halilintar. Aku jatuh terduduk, lemas. Harus berapa kali? Ini sudah perbaikan yang kedua, ini sudah kali ketiga aku mengerjakan tugas yang sama.
Kelas kami mendapat tugas membuat poster tentang olahraga. Entah bagaimana, sepertinya kami sedikit miskomunikasi dengan guru pengampu. Tugas pertama hendak dikumpulkan, Pak Laryo, guru olahraga kami menolak menerima tugas dalam kertas gambar. Beliau meminta tugas dikumpulkan dalam bentuk softfile. Maka perbaikan pertama, kami sekelas kompakan membuat poster digital. Selang beberapa hari ketika ketua kelas mengumpulkan softfile tugas poster kami, Pak Laryo kembali marah.

Sabtu, 07 April 2012

Cerpen - Dia..Malaikat?


Dia.. malaikat ?
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Aku berada di sebuah ruangan kosong, sunyi, sepi. Hanya aku disini. Detik berikutnya, aku melihat dua orang, entah siapa. Sedang berpelukan, seorang ibu dan seorang anak, yang sepertinya seumuran denganku. Siapa mereka? Aku sama sekali tidak mengenal mereka! Baik ibu, maupun anak yang bersamanya. Semua terasa asing. Tempat, suasana. Semuanya! Terutama dua orang di ujung sana.

Mengatup. Angin tidak bertiup.

Lumpuh. Tidak ada gemericik peluh mengaduh.

Diam. Desah nafasku pun tenggelam.

Aku masih menatap dua sosok itu. Entah mengapa, tiba-tiba sang ibu melepas pelukannya. Kemudian pergi. Tanpa kata. Begitu saja. Dan akhirnya, menghilang dibalik kabut putih yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Reflek kutatap sang anak, ingin bertanya.. dimana kita?. Yang kutatap justru berbalik menatapku tajam.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
           

Senin, 06 Februari 2012

Cerpen - Pak Bon


Yah, semua orang benar. Nenek, ibu, kakak, dan adik. Bahkan para gelandangan, pencopet, guru juga professor. Mereka benar. Ucapan mereka yang tidak perlu seorang pun untuk menyanggah dan menentangnya. Inilah. Tidak ada seorang pun senang dibanding-bandingkan, dan anak sebelas tahun dihadapanku ini adalah satu dari seribu bukti nyata yang pernah kutemui.

Aku bukan guru bimbingan konseling atau semacamnya. Bukan pula kepala sekolah dan seperangkat rekan kerjanya di bangunan ini. Tapi aku bekerja disini. Bekerja di bangunan berpagar di sudut kota, SD Bina Cita. Pekerjaan berat yang membuatku senang, karena satu hal. Aku mempunyai keunikan yang membedakanku dengan bapak ibu berseragam yang lalu lalang dengan motornya. Anak-anak memanggilku Pak Bon. Dan aku bangga dengan panggilan ini.

*****